Semut Merah Yang Ingat Utang Budi


Semut Merah Yang Ingat Utang Budi
Huh…..tiupan sang bayu tak satupun yang menyapaku. Sang surya memancarkan senyum yang begitu tulusnya kepada bumi, sehingga meleleh bumi dibuatnya. Ya,…tentu saja meleleh, sampai es di kutub pun mencair. Mungkin bumi jatuh cinta dengan senyuman pancaran  surya, tapi bagaimana boleh buat dengan daku yang sudah hitam ini dibuat kelam lagi oleh sang surya. Sang Candra  pun meragukan akan jati dirinya sebagai satelit yang satu-satunya milik bumi. Kecurigaan pun dimulai dari sang candra kepada surya dan bumi.  Berbulan-bulan telah ku lalui antara kisah asmara bumi dan surya, sampai dewa indra pun tak berani membasahi bumi, ditakutkan surya akan marah, karena bumi tak akan melihat senyum sang surya. Wahai dewa indra, engkau kan rajanya dewa,kau bertugas memberikan air kepada semua makhluk pribumi, mengapa engkau lalaikan tugasmu yang satu itu hanya karena ketakutanmu kepada surya.  Seharusnya kau berhak untuk itu, sepintanya ijinlah kepada surya, bahwa kau akan menghujani kami sehingga kami tak kekurangan air seperti ini di bumi.  Lalu….
             “Umik……umi…..” hening.
            “Umik..dayu” hening.
            “Dayumi Kartika!!!!!” Panggil ibu terakhir kalinya dengan  nada yang tinggi.
    Tersentak, aku tersadar dari hayalanku yang mengisahkan musim ini. Hm… baru saja aku ingin menambahkan  sang kartika, namaku sendiri, pada hayalanku, tapi  harus terhenti karena ibu. Entah kalimat  apa lagi  yang akan terdengar  dari bibir manisnya.
            “ehh…ampun bu, tiang[1] baru saja menghayal” jawabku.
            “aduh…siang-siang begini Dayu menghayal?” Tanya ibu.
            “lalu kapan waktu yang tepat untuk menghayal bu?”
“Aduh..okan[2] ibu yang satu ini makin ngeyel aja. Kan sudah pernah ibu kasitahu jangan pernah menghayal berbahaya, nanti kalo setan yang merasuki bagaimana?”
            “bu jangankan setan,  semut kecil pun tidak akan mau mendekatiku” Jawabku dengan nada sendu.
“Makin dijawab makin aneh saja kamu nak. Eh…. ibu mau ngasi tau apa barusan ya? OH..iya,  kenapa tidak bersiap untuk berangkat ke kota? Besok kan hari senin Dayu harus sekolah. Sekarang cukupkanlah hari minggumu di griya[3]  sampai hari ini, kembalilah ke kost sekarang nak”
            “Aduh..bu..jangan ingatkan tyang dengan kost… Ih tyang tidak suka disana.  Tiada kawan,  tempat terpencil, dan satu lagi …….. “
“Makanya bergegas kembalilah sekarang, lalu bersihkan kamar kost mu!” potong ibu di tengah ocehanku.
“Percuma saja bu. Tiang sudah bersihkan terus-menerus dan yang paling buat tiang tidak suka, kecoa. Masak  setiap tiang  pulang dari desa, hanya ditinggal 2 hari saja kecoa disana sudah banyak sekali. Tuan rumah tidak mau bertanggungjawab membuat tiang semakin jengkel saja” keluhku kepada ibu”
“ Nak..sekarang terima dan syukuri  saja dulu nggih[4], nanti ibu bicarakan lagi dengan Ajik[5]. Semoga ajik mau mendengarkan saran ibu, agar kamu sekolah dari desa saja. Tapi ibu mau buat persetujuan dulu dengan kamu nak. Kamu tidak akan mengeluh lagi kan jika lebih payah sedikit ? maksud ibu bangun lebih awal dari pada di kost dan membawa motor lebih jauh lagi,  sanggup?”   tantangan ibu padaku.
“ Nggih bu, Dayu menyanggupi. Tapi uang jajan dinaikkan nggih? Hehehee..itung-itung uang beli bensin bu” jawab ku dengan semangat.
“ Kasik ngitung uang nomor satu dah….. Yayaya, siap bos”   ucap ibu sambil  menjewer telingaku. Sontak saja aku kesakitan tapi tertawa. Kemudian ibu memelukku dengan kasih sayangnya. Oh Tuhan, betapa mendalamnya kasih yang kurasakan ini, dari seorang malaikat bidadari seperti dia. Semoga  aku dikemudian hari dapat membalas semua kasih sayang yang tulus ini, yang tidak bisa kudapatkan dari orang lain, dan pula orang lain yang tak bisa berikan kepadaku, kecuali ibuku sayang.
Seperti itulah aku setiap minggunya. Pulang ke Griya pada hari jum’at lalu  kembali ke kota pada hari minggu siang. Semenjak aku bersekolah di SMA N 1 Singaraja, aku merasakan perubahan. Ya, aku  dituntut lebih mandiri, mengatur diri sendiri, dan jauh dari pantauan orang tua. Kamar yang biasanya dibersihkan oleh ibu, kini diurus diriku sendiri. Memasak, sudah aku sendiri. Dan biasanya tidur dengan ibu, kini sendiri. Kalo diibaratkan lagunya Rhoma Irama , “masak-masak sendiri, makan-makan sendiri, nyuci baju sendiri……” eh jangan sambil nyanyi bacanya…..wkwkwk.
“Dayu sekarang berangkat?” Tanya ajik.
“Inggih jik. Jik Dayu jengkel sekali, di kost belakangan ini banyak ada semutnya. Semut itu mencari makanan, air, pokoknya segala benda yang ditaruh di dapur kost dicari sama semut merah.  Belum selesai perang sama kecoa, kok semut  memulai memancing kemarahan Dayu. Mungkin dia mau  menantang  senjata ampuh Dayu, yang dibuat oleh Johnson Company , dengan formula teknologi terkini, yang memiliki daya kerja tahan lama……..”
“Baygon????” Jawab Ajik sambil tersenyum yang mendengar ocehanku.
“Kok tau jik? Eh..jangan menyebut merek jik. Kita tidak dibayar untuk membicarakan itu” jawabku sambil nyengir.
“kenapa ajik bisa tau kalok itu Bay*****?”
            “Ini sebenarnya Dayu yang ketinggalan jaman apa ajik yang modern ya? Baygon itu kan sudah ada sejak lama, bahkan Dayu masih seumur jagung pun udah ada. Ajik pakek itu untuk mengharumkan ruangan, sekaligus mengusir nyamuk. Aduh ni anaknya ajik ke kota tak kirain makin maju, eh makin mundur…hmm”
“Ih….ajik ini. Dayu kan cuma ingin menguji apa ajik tau baygon tidak. Upss…Dayu telah menyebutkan merek” jawabku dengan menempelkan tangan di mulut.
            “ Dayu….”  Panggil Ajik dengan nada serius.
            “Dayu   syukuri dulu nggih tempat kostnya, semester 2 nanti Dayu sekolahnya dari desa. Sesuai diskusi ajik sama ibu tadi. Sekarang nikmati  dulu kostnya, Dayu biar ada pengalaman juga hidup pernah jauh di Kota. Mungkin nanti…”
“Yeayyyy…. Tapi jik, semutnya untuk sekarang bagaimana?” potongku kepada ajik.
            “Nggih untuk  itu…. Dayu tahu kan, sekarang lagi musim panas. Hujan belum turun-turun sampai November ini. Jadinya semua semut-semut itu masuk ke kost Dayu untuk mencari makanan, karena di tanah sudah tidak subur lagi, tanah sudah kering. Maka dari itu para semut mulai naik mencari tempat yang lebih teduh dan ada sumber kehidupan, sama seperti Dayu kalau kepanasan pasti nyari tempat teduh..karena kulitnya takut hitam, padahal sih sudah hitam” jelas ajik dibumbui dengan bercanda.
“Is… ajik ini,  kok hitam bilang hitam?”  berbalik aku mengejek ajik.
            “ Ajik punya tantangan, bisakah Dayu membuat semut itu berbalik menjadi teman Dayu? Dan malah membantu Dayu memerangi kecoa itu? Bahkan tanpa Dayu mengeluarkan senjata yang kata Dayu “ampuh” itu? Ingat Dayu, semakin diserang akan semakin melelahkan, sebaikknya belajarlah Dayu  menggunakan serangan lawan untuk  dijadikan kawan Dayu”.   Nasihat ajik kepadaku.
            Ajik memang tidak pernah ingin mencampuri urusan anaknya, selama tidak melukai dan membahayakan anaknya. Dia selalu memberikan keempat anaknya perlakuan yang sama. Masalah yang kami hadapi, Ajik hanya memberikan jalan, tantangan, dan cara untuk menyelesaikannya. Jadi dia menghindari intervensi ketika kami dilanda masalah yang masih wajar, seperti masalah pertemanan, ataupun lainnya. Tak jarang aku terkesan dengan cara berpikirnya. Dan untuk kali ini, nasihat yang diberikan  Ajik, aku hanya mengingat sebuah kalimat, “menggunakan serangan lawan untuk dijadikan kawan”.  Aku belum mengerti dengan kalimat itu.  Biasanya aku akan mengerti kalimat yang dilontarkan ajik setelah aku melalui sebuah peristiwa. Mungkin kali ini Aku  akan mengartikan kalimat itu lagi  sendiri.
-Di Kost, Singaraja
            Sudah bisa ditebak, kecoa banyak, semut mencari makanan. Hebatnya semut, mereka bisa merobek plastik keripik yang lumayan tebal jika dihancurkan makhluk seperti semut. Aku segera mengambil senjata ampuhku, kemudian membersihkan kamar kost.
            Keesokannya sama saja, semut itu kembali menggerogoti makananku. Tentu saja aku mencari tuan rumah dan mengatakan padanya. Tapi kalian tahu apa yang diperbuat? Mereka hanya menjawab nanti kami yang urusi.  Jujur aku sudah bosan mendengarkan jawaban itu. Kalau dilihat dari kebersihan kamarku,  aku selalu menjaganya bersih. Kalau  masalah kecoa, mungin mereka mencium bau makanan di  dapur yang notabene ada di dalam kamar kost. Nah, kamar kost ku diapit oleh kamar kost lainnya yang sekarang tidak ada yang mengontrakknya. Jadinya aku hanya sendiri yang kost di  rumah ini. Tuan rumah, tuan rumah di kost ku yang satunya aku panggil kakek, sudah tua renta, yang satu lagi pak,  bekerja di Indra Jaya, toko alat tulis dekat sekolah (maaf bukan bermaksud sponsor). Mereka sangat berbeda. Kalian tahu, sepertinya Pak mengidap kelainan jiwa, karena terkadang dia berbicara sendiri, lalu  ketawa sendiri, aneh pokoknya, sedangkan kakek, dia tamatan pegawai pajak, jadi  daya ingatnya  bekerja sangat baik sampai saat ini. Kalian tahu tidak, kakek memiliki kebiasaan yang sangat bagus. Beliau sering membaca koran, walaupun sering mengeluh dengan huruf yang kabur (dan aku tak tau huruf-huruf itu kabur kemana, padahal tetep ada di koran…wkwkw), sering mendengarkan radio, katanya untuk melatih pendengarannya (radionya diputer dong sampai volume suaranya besar..hmhm) . Sedangkan Pak selalu saja pergi entah kemana, padahal dia yang diberi tanggungjawab oleh kakek untuk menjaga rumah. Jadi yang sering aku ceritakan tuan rumah yang tidak bertanggungjawab adalah…..
            Berbalik aku ceritakan tentang semut dan kecoa, musuh utamaku. Saking jengkelnya, aku seperti orang gila yang berbicara dengan semut. Hm…sekarang aku yang gila, gara-gara semut. Sedangkan kecoa, mereka hanya akan muncul ketika aku tidak ada dua hari atau kebih di kost, jadi mereka jadwalnya muncul itu hari Jum’at sampai dengan Minggu. Semut lagi. Aku beberapa hari ini mengamati si semut. Ya..sebagai seorang peneliti muda, aku merasa tertantang memecahkan masalah ini. Aku membaca literature  tentang semut. Baik dari  ilmu etologi (tingkah laku), struktur, dan masih banyak lainnya.  Akhirnya aku tidak menemukan suatu apapun. Menyedihkan.
-Desa Sidan, Gianyar.
            Hari ini, Sabtu, seperti biasa aku pasti pulang ke desa. Tapi desa kali ini berbeda dengan biasanya. Aku  dan keluargaku pergi ke Desa Sidan, Gianyar, desa asal bapakku berada. Disini kami pulang sembari menimba ilmu agama. Itu sudah lumrah, dimana ibuku seorang penjual banten/sesajen akan berdiskusi dengan nenekku, sementara Ajik akan membaca kesusastraan yang sekiranya belum dia baca. Ya..tuntutan sebagai kepala sekehe/suku bagi kedua orang tuaku mewajibkan mereka untuk mendalami agama, mengetahui sesajen, dan masih banyak lagi. Sementara aku? Aku hanya sedang memikirkan bagaimana menghilangkan semut-semut nakal itu dari rumahku tepatnya kost. Memang ragaku masih menari mengikuti alunan gong, ya sontak saja gerakanku selalu salah. Aku sudah lelah dengan semut-semut apalagi kecoa.
            Nenek memanggilku, aku telah mengetahui maksud dia apa. Dia pasti menanyakan kenapa tarianku tadi banyak yang salah. Dan benar saja ketika aku menemuinya, dia menanyakan apa yang aku pikirkan. Lalu kujawab dengan sejujurnya, bahwa semt dan kecoa telah membuat tarianku salah semua.
“Apa semut dan kecoa itu mengitari Dayu waktu menari?”
            “Tidak nek. Bukan begitu. Di kost tiang banyak sekali ada semut dan kecoa, dan tiang tidak tahu bagaimana caranya menghilagkannya”
“Ah..pasti ada makanan yang manis disana, coba suguhkan dia sedikit saja nak. Janganlah kau terlalu egois untuk menyimpannya untukmu saja. Dayu, kalo dayu tau, kita hidup di Bali ini memakai konsep seperti yang nenek katakana barusan.”
            “Haduh…  tiang  tidak mengerti dengan penjelasan nenek. Aduh…pemikiran tiang tidak kesampaian iniii… Nenek sepertinya menambah beban Dayu”
“Bukan begitu cucuku. Jadi begini…..  kita hidup ini bukan hanya manusia saja, kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi kita hidup juga untuk orang lain. kita hidup berdampingan untuk saling bantu-membantu. Manusia tidak akan bisa hidup sendiri, karena manusia memerlukan makhluk lainnya untuk bertahan hidup. Jadi kita tidak boleh mementingkan keperluan diri saja, tapi juga keperluan lainnya. 
            “Hubungannya dengan semut dan kecoa?”
“hubungannya adalah jika kita memberikan sedikit saja milik kita kepada si semut atau si kecoa, mungkin mereka tidak akan menggangu kita lagi. Sama seperti konsep kita di Bali, kita menyajikan sesajen bukan berarti tanpa tujuan apa. Kita menyajikan sesajen, mengingatkan  kita bahwa hendaknya mengucap rasa syukur atas apa yang dimiliki,  memberikan sedikit milik kita tidak akan membuat kita akan jatuh miskin. Untuk itu kenapa nenek selalu memintamu sebelum makan, berdoa dan menyisihkan sedikit kepada mereka, mereka yang kita lihat maupun yang tidak.  
            “………..”
“Iya Dayu, semoga keheningan ini memberikan Dayu solusi, bukannya masalah. Sekarang nenek telah memberimu solusi, nenek harap tidak ada hal lain lagi yang akan membuat tarianmu salah”
            “ terimakasih banya nek”.
            Ucapan nenek sangat benar, aku ingat dengan apa yang dikatakan oleh guruku. Dari cerita seekor kucing yang awalnya merusak segala rumah perabotan, tetapi semenjak diberi makanan oleh empunya rumah dia menjadi baik karena selalu diberi makan, dan timbal baliknya si kucing membantu membasmi tikus-tikus yang ada di rumah itu. Ingatan ku kembali lagi, apa ini yang dikatakan oleh Ajik mengenai “menggunakan serangan lawan untuk dijadikan kawan”?. Nampaknya aku akan segera mengakhiri masalah ini.
-Di Kost, Singaraja
            Minggu, ya balik ke kota. Kali ini seperti biasa lagi.  Kecoa dan semut. Tapi yang berbeda adalah pemikiranku. Aku tidak sabar lagi bermain dengan strategi perangku yang baru, diajarkan langsung oleh Ajik, dan dilapisi dengan semangat nenek, hehehe maaf menghayal lagi. Baiklah mari kita mulai. Awalnya, aku membersihkan semua daerah kamar(udah biasa). Kemudian, aku menyemprot semut dan kecoa dengan baygon, ((udah biasa juga (eh…aku menyebutkan merek lagi deh)). Terakhir aku memberikan satu bungkus keripikku tergeletak terbuka di tempat yang strategis, yaitu jauh dari makananku tetapi sering dilalui oleh semut, ini yang nggak biasa. Strategi aku memberikan kripik itu dimakan semut. Ya ini baru usaha, semoga dia tepat mengenai sasaran. Tak lupa, aku juga mengatakan sesuatu pada semut itu.
“Semut merah yang baik, aku telah menyediakanmu kripik yang gurih dan manis. Aku tahu kalian pasti menyukainya, kalian boleh kok ambil yang terbuka itu, tapi ingat ya jangan menganggu aku, terutama memakan makananku yang lain. jadilah kawanku yang baik, terimaksih.” Ucapku dengan menggunakan bahasa bali
Kalau di Bali, berbicara mendoa atau meminta sesuatu kepada Tuhan atau makhluk lain itu disebut dengan mesee, yah jadi aku coba ikuti itu saja. Semoga usahaku ini berhasil. Lalu kecoanya? Sampai disini aku masih pasrah sama makhuk yang satu ini. Karena di kota seperti ini, lazim diketemukan kecoa.
-Di Griya
            Selamat pagi duniaku. Hari ini aku senang sekali, kenapa? Ya karena hari Sabtu. Jadinya ada waktu lagi satu malam untuk bersenang-senang. Tetapi itu hanya hayalan saja.  Ketika jam 9 pagi temanku  memberitahu bahwa kita akan kerja kelompok sejarah, membuat Madding. Seketika kebahagianku lenyap begitu saja. Mau tidak mau aku harus berangkat pergi, karena ini kewajibanku. Lalu aku berpamitan kepada kedua orang tuaku.

-Di Kost, Singaraja
            Hal yang mengejutkan baru saja aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat sesuatu hal yang aneh dan benar-benar baru terjadi di kamar kos ini. Aku melihat semut-semut merah itu menggerubuni bangkai-bangaki kecoa yang ada di kamar kostku. Aku cek sampai dapur, bangkai kecoa hanya ada pada lantai. Dan semut merah hanya memakan keripik dan juga kecoa, tepatnya bangkai. Apakah mereka telah membantuku dalam membunuh kecoa ini? Apa mereka hanya berakting saja? Tapi tidak mungkin kalau semut berakting, memangnya ini negeri dongeng. Entahlah…aku tidak mengerti kejadian ini. Tunggu, tidak ada bekas kaki maupun bekas sandal. Tak ada yang berubah dari segi barang-barang. Tapi siapa yang bisa masuk lagi selain aku, kan aku yang bawa kunci kosnya, kalau tuan rumah tidak mungkin, dia tidak punya kunci cadangan kamarku.
Tunggu, bukankah ini sesuai kata ajikku? Apakah aku telah menjawab tantangan ajikku? menggunakan serangan lawan untuk dijadikan kawan. Mungkin ini jawabannya. Awalnya aku menganggap semut itu lawan baruku, tetapi salah. Sebenarnya dia adalah kawan, yang aku bisa jadikan alat untukku membantu mengusir kecoa itu. Ya benar. Menurut hematku aku telah menjawab tantangan Ajikku. Ya..ini nyata, sangat nyata. Aku terkesan sekali, semut ini bisa membalas budi. Walaupun aku tak tahu kejadian apa yang sebenarnya terjadi, aku ucapkan terimakasih kepada Tuhan, Dia telah menunjukkan muksizatnya kepadaku. 



[1] Saya
[2] anak
[3] rumah
[4] Iya, ya
[5] bapak

Komentar

Postingan Populer